Rabu, 28 Maret 2012

Pemanfaatan Hasil Kelapa

Kelapa (Cocos nucifera) adalah satu jenis tumbuhandari suku aren-arenan atau Arecaceae dan adalah anggota tunggal dalam marga Cocos. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serba guna. Tumbuhan yang merupakan tanaman tropis ini tumbuh subur di daerah pesisir, tidak memerlukan perawatan khusus. Dari buah, batang sampai daun tanaman ini mempunyai potensi yang dapat dikembangkan menjadi sebuah peluang usaha 
Sabut Kelapa
Menurut United Coconut Association of the Philippines (UCAP), dari satu buahkelapa dapat diperoleh rata-rata 0,4 kg sabut yang mengandung 30% serat. Serat dapat diperoleh dari sabut kelapa dengan cara perendaman dan mekanis.Sabut kelapa sangat kaya dengan unsur Kalium yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Oleh karena itu apabila sabut kelapa tidak dipergunakan untuk produk-produk yang laku dijual, maka dapat dikembalikan ke kebun sebagai pupuk Kalium.
Ekstraksi Serat dengan Perendaman
Perendaman bertujuan untuk memisahkan/mengekstraksi berkas-berkas serat dari sekam yang mengikatnya dengan menggunakan aktivitas mikroorganisme. Caranya adalah dengan memasukkan sabut kelapa ke dalam kolam selama 1-3 bulan. Selama dalam peredaman ini, maka berbagai mikroorganisme akan berkembang dan sebagai hasil dari kegiatannya maka jaringan sekam yang mengikat serat terutama terdiri atas pektin perlahan-lahan akan larut dan disertai dengan timbulnya bau yang kurang sedap. Banyaknya sabut yang direndam disesuaikan dengan bak yang tersedia. Oleh karena waktu yang diperlukan terlalu lama dan dibutuhkan bak yang sangat luas, maka tara ini dianggap kurang efektif dan efisien. 
Ekstraksi Serat Menggunakan Mesin 
Cara ini menggunakan pemukul besi atau paku yang dipasang pada drum yang berputar cepat. Hasilnya adalah serat berbulu yang bersih. Serat yang diekstraksi akan diperoleh 40% serat berbulu dan 60% serat matras. Dari 100 gram sabut yang diekstraksi diperoleh sekam 70%, serat matras 18% dan serat berbulu 12%. Serat matras digunakan untuk bahan pengisi (jok), bahan penyaring, matras, dan sebagainya. Sedangkan serat berbulu sangat baik untuk dibuat sikat pembersih, sapu, keset, dan lainnya.
Tempurung Kelapa 
Pada umumnya tempurung dimanfaatkan sebagai bahan bakar. dalam bentuk tempurung kering atau arang tempurung. Tempurung, di samping dipergunakan untuk pembuatan arang, juga dipergunakan untuk pembuatan arang aktif, yang mempunyai kemampuan mengabsorpsi gas dan uap. Di samping itu arang aktif dapat dipergunakan sebagai kedok gas, filter rokok, ekstraksi bensin dari gas alam, pemurnian gas, menghilangkan bau limbah hasil buangan industri, bahan dasar pembuatan bateray, dan sebagainya. Arang aktif juga mampu menghilangkan warna dalam larutan, sehingga dapat dipergunakan untuk pemucatan minyak nabati, dekolorisasi larutan gula dan sebagainya. Pembuatan arang tempurung dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu metode drum, metode lubang, dan metode tungku. Metode tungku sesuai untuk pengusahaan secara komersil, sedangkan metode yang paling sesuai untuk pembuatan arang tempurung dalam skala kecil adalah metode drum.
Arang Briket
Tempurung merupakan bahan yang rapuh, sehingga mudah hancur selama penangannya. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam mengangkutnya, dan bahkan kesulitan dalam penggunaan tungku. Salah satu cara untuk mengatasi kesulitan ini adalah dengan membuat arang briket. Cara yang umum dilakukan adalah menggiling arang tempurung, mencapur dengan perekat, mencetak, dan bila perlu mengikatnnya.
Arang Tempurung Aktif
Potensi komersial arang tempurung terletak pada karbon aktifnya, kerena bahan ini sangat efektif untuk mencegah adanya polusi, gas beracun, gas atau uap yang tidak dikehendaki. Cara kerja tempurung aktif ini terutama daya afinitas (daya tarik menarik)nya yang selektif terhadap substansia tertentu. Substansia ini diadsorpsi pada permukaan arang dan permukaan arang ini dapat diperluas dengan cara memperkecil ukuran partikel arang. Daya afinitas yang sefektif dari arang aktif terhadap substansia khusus ini, dapat ditunjukkan oleh kemampuannya melakukan dekolorisasi larutan gula yang keruh. Arang tempurung aktif lebih disukai dibandingkan arang aktif dari bahan lain, karena daya adsorpsinya yang tinggi dan mudah penanganannya disebabkan oleh bentuknya sebagai butiran yang keras, tidak mudah hancur menjadi bubuk.
 Air Kelapa sebagai Nata de Coco
Nata de coco merupakan bahan makanan yang sangat lezat, yang dimakan dalam berbagai bentuk makanan seperti koktil buah, es krim atau dalam sirup yang sangat baik untuk diet makanan berserat. Secara ringkas skema pembuatan nata de coco dapat dinyatakan sebagai berikut: Air kelapa yang telah disaring (12 mangkuk) → dididihkan → didinginkan → diberi starter Acetobacter xylinum 2 mangkuk, asam asetat glacial 1/2 mangkuk, dan ditambah gula 1 mangkuk → dicampur hingga merata → disimpan selama 14 hari → nata de coco mentah → dipotong-potong, dicuci sampai rasa asam hilang, ditiriskan → ditambahkan sirup gula (2 mangkuk gula, 1 mangkuk air) → di masukkan dalam botol → direbus pada air mendidih 30 menit → nata de coco siap dikemas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar